Jendela Kamar Kalimantan,
21 April 2013
Memandang langit biru dengan awan putih yang menghias.
Cahaya matahari yang menyilaukan, bersembunyi di balik jendela, selembr kertas
dengan pena hitam perlahan menggoreskan tulisan di atasnya. Entah apa yang dipikirkannya,
entah hidup yang begitu sulit di jalaninya, kerasnya dunia yang menghantam,
atau beratnya perjuangan untuk hidup lebih baik. Seolah tak ada yang mendukung.
Air matanya makin menggenang tetapi enggan untuk keluar, ketegaran yang dia
tanamkan dalam dirinya sebagai kendaraan untuk hidup kedepan meraih cita-cita
dengan mimpi setinggi mungkin, teguran dan omelan menjadi makanan
sehari-harinya, tetapi senyumnya tidak akan pergi dari wajahnya, tawa yang
lepas seolah menutupi bahwa dirinya begitu tersiksa. Ada luka di hatinya.
Kesunyiaan yang menghantam dirinya mulai saat kedua orang tuanya meninggal,
Tuhan mengapa aku berbeda. Gumamnya dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar